Blog lanjutan dari Paimarantau. Ditulis oleh Aden & Putri.

,

Pengalaman Tinggal di Rusun Benhil 2 January 25, 2016

Kami tinggal di rusun Benhil 2 sejak awal menikah, Desember 2014, sampai kami harus meninggalkan Jakarta untuk lanjut kuliah, Januari 2016. Namanya aja sih rusun benhil, sebenarnya rusun ini berlokasi di Jalan Penjernihan, Pejompongan. Persis di seberang pemadam kebakaran dan Kantor Lurah Benhil.



Selama 1 tahun lebih , banyak pengalaman dan kenangan yang kami dapatkan.

Keliatan dari luar, rusun ini terlihat angker, tidak terawat, jorok, dan serem. Memang begitulah adanya. Rusun ini bisa dibilang jorok untuk lantai-lantai bawah, namun untuk lantai tinggi, rusun ini bisa dibilang lumayan bersih.

Tapi jangan salah loh, penyewa di rusun ini, orang-orang yang punya mobil. Bisa dilihat dari parkiran rusun yang selalu (sangat) penuh oleh mobil-mobil yang bisa dikatakan mewah. Sementara, penduduk asli rusun ini adalah orang Jakarta dengan keadaan ekonomi rendah. Jadi, rusun ini adalah pencampuran antara penyewa yang berkemampuan dengan masyarakat berekonomi rendah. Umumnya penduduk asli menempati unit-unit di bawah, sementara penyewa unit-unit atas.

Biaya sewa kami adalah Rp. 5.000.000,00 per 3 bulan. Mahal atau murah yah? Mungkin bisa dikatakan mahal, jika membandingkan dengan harga sewa rumah di pinggiran Jakarta. Sewa rumah di pinggir ibukota dengan 2 kamar, rumah napak di bumi, bisa dapat Rp. 1.600.000,00 per bulan. Murah jika kita bandingkan dengan kos-kosan di sekitar kawasan dekat rusun. Misalnya Benhil, untuk kontrak dengan besaran 3*3 m bisa mencapai 1jutaan. Yah, mahal murahnya relatif.

Rusun yang kami sewa memiliki luasan 21 m2 dengan tipe studio, semua di rusun ini tipe studio. Di dalamnya, sudah ada AC, kasur, lemari, dapur dan kamar mandi- full furnished. Untuk dapur hanya ada westafel dan rak saja. Untuk kompor, kulkas, dll disediakan sendiri.

p_20160119_204418.jpg

Nah, enaknya tinggal di rusun ini adalah :
1. Lokasinya sangat strategis, dekat dari mana-mana. Dekat dengan Thamrin City, Sudirman, Tanah Abang, Stasiun Karet, Plaza Semanggi, Rumah Sakit. Pokoknya ini kawasan yang enak banget. Kemana-mana tinggal ngangkot saja.

2. Banyak tempat makan. Persis depan rusun, ada Sambel Setan yang ternama , pedes maknyos. Dekat dengan Benhil juga, tempat segudang rumah makan terkenal di Jakarta seperti : Rumah Makan Bopet Mini, Rumah Makan Aceh Seulawah, Gudeg Pejompongan. segala macam rupa ada.

3. Posisi studio kami di lantai 8, jadi angin dan matahari masuk. Sirkulasi udara untuk unit-unit atas tergolong baik, sinar matahari pagi masuk ke unit kami. Angin sepoy-sepoy yang jarang dapat dirasakan di kota Jakarta dapat kami nikmati.

4. Listrik dan air murah. Air hanya bayar maksimal 20rb saja per bulan. Untuk listrik maksimal 150.000 dengan pemakaian AC tiap malam.

Bagian yang tidak enaknya adalah :
1. Tidak bertetangga. Karena orang-orang rusun pada kerja juga, pagi pergi, malam baru pulang. Jadi antar unit tidak saling kenal. Kecuali penduduk asli, mereka memang sudah kenal satu dan lainnya sejak dulu.

2. Lift ada jam-jamnya. Nah ini paling sulit. Jam operasional lift dari jam 6-8, 11-13, dan 16-24, itupun lift yang nyala hanya 1 unit dari total mungkin ada 8 unit lift. Mungkin dikarenakan rusunnya sudah tua, jadi liftnya juga sudah tua, dan nggak bisa dipakai berlebihan.

3. Susah dapat parkir. Jika punya kendaraan sendiri, parkir harus tag-tag kan dan berbayar. Kalau ada keluarga atau tamu yang datang dengan mobil, parkir jauh di belakang rusun.

Rusun Benhil ini bisa jadi pilihan tinggal untuk pegawai single atau keluarga muda yang mencari hunian terjangkau di tengah ibukota.
Share:
Read More
, ,

Perjalanan Pesawat 18 Jam Bersama Bayi May 24, 2018


Sabtu, 24 Februari 2018, saatnya kami harus meninggalkan Belanda. Tujuan kami langsung ke Jogja, dengan transit Jakarta tentunya. Total lama perjalanan adalah 18 jam, yang mana 14 jamnya nonstop antara Amsterdam-Jakarta.
Kecemasan-kecemasan pun mulai memasuki pikiran kami, terutama karena kami bawa bayi. 'Gimana nanti kalau lagi nangis, berisik sekabin, nggak enak sama penumpang lain.' 'Gimana nanti kalau mau pup?' 'Gimana nanti makannya?' 'Boboknya gimana?' 'Gimana nanti kalau bosan?' dll.
Kebetulan yang terencana, keluarga Mas Yasir juga satu pesawat menuju Jakarta. Membawa 2 anak kecil. Ternyata juga satu barisan dengan kami. Kami sayap kiri, mereka sayap kanan. Jadi ada yang bisa dicontoh ceritanya. Hahah
Di bandara Amsterdam itu sendiri sudah lumayan memakan energi karena kerompongan bawa-bawa barang berlebih dan lewat-lewat keamaanan, yang habis itu cincin istri hilang. Walau sampai ruang tunggu energi kami tidak 100%, tapi semangat masih lah. Apalagi bocah hepi-hepi aja naik di atas koper.
Sambil nunggu pesawat, main-main dulu di travelator (eskalator datar) yang ada di bandara. Main-main juga sama Mail.

Intinya tahan anak hepi-hepi dulu biar ngantuknya di dalam pesawat aja. Sampai di pesawat kami dapat barisan kiri depan yang leg-roomnya lumayan enak. Ditambah lagi samping kami kosong, jadi kami dapat barisan 3 kursi utuh. Keluarga Mas Yasir juga, di seberang kanan.
Sudah duduk, dikasih sabuk pengamanan buat bayi, dan ditanya sama pramugari bayinya beratnya berapa. Karena basinet (tempat tidur bayi) cuma boleh untuk berat maksimal 9 kg. Aini waktu itu 9.5kg tapi kami masih dikasih. Notes tentang basinet: jangan lupa untuk memesan basinet sebelum berangkat (via telpon atau email). Walaupun kalau tidak pesan, mereka sepertinya punya cadangan. Kalau basinet terpasang, sulit untuk buka-tutup layar TV. Jadi kalau mau dibuka ya tidak bisa ditutup karena terbentur basinet. Tapi kalau sudah tahu caranya, basinet bisa dibongkar pasang sendiri. :p
Dann..perjalanan dimulai dengan nyusu dan bobok walau cuma sebentar. Habis itu dilanjut dengan makanan. Aini dapat jatah makan bayi yang porsinya luar biasa (untuk ukuran Aini). Biasanya makanan botolan aja cuma bisa kemakan 1/3nya. Ini dikasih botolan, pisang, snack. Di paket 'makan' itu juga ada popok. Nice.
Somehow Aini di pesawat lumayan santai dan hepi-hepi aja, sesekali minta nyusu dan bobok. Kadang ketawa-ketawa sama orang di belakang kami, main-main cilukba.
Sebelum ini kami sempat kepikiran untuk Aini jalan-jalan di pesawat untuk meregangkan badan. Tapi sepertinya itu tidak perlu-perlu amat karena toh masih bisa lompat-lompat dan main-main di atas pangkuan kami.
Saatnya poop. Toilet tersebar di depan dan belakang. Rata-rata semua ada changing table untuk ganti popok. Kalau mau agak leluasa, pilih toilet yang di pinggir pesawat, bukan yang di tengah. Yang di tengah lebih kecil tapi masih gampang juga sih. Oiya, saat ganti popok ajak bayi ngobrol atau ketawa-ketawa karena tempatnya baru dan cenderung sangat sempit dibandingkan di rumah jadi bayi suka merasa tidak nyaman atau tegang dengan suasana baru.
Saatnya bobok. Aini boboknya tipis, maksudnya gampang kebangun, seperti Babanya. Pas waktunya bobok malam di pesawat, dimimikin bentar, dan entah kenapa bisa ditaruh di basinet. Biasanya gerakan dikit aja langsung kebangun. Mungkin karena sudah terlalu lelah. Basinetnya sebenarnya kurang leluasa, kepala kepentok atas. Boboknya jadinya miring dan kakinya ditekuk. Sesekali kebangun, dimimikin, dan ditaruh lagi. Tapi cuma berhasil 2-3x kali. Habis itu lanjut bobok di pangkuan mamanya.
Perjalanan 14 jam ini terlewati. Dengan badan capek tapi yang penting tidak ada kendala. Seperti biasa, beberapa saat sebelum persiapan pendaratan, pilot mengumumkan beberapa informasi, salah satunya yang membuat kita stress adalah 'suhu udara di Jakarta saat ini 33 derajat celsius'. Padahal kami masih gotong-gotong jaket winter. Waktu berangkat dari Amsterdam real feelnya -8 derajat (suhu aslinya 'cuma' 0/-1). Jaket winter terpaksa jadi beban tersendiri dan masuk tas.
Selain itu, pesawat dinyatakan telat, walaupun hanya sebentar. Masalahnya waktu itu saya 'salah' beli tiket. Waktu transit yang saya salah pilih hanya 1 jam 45 menit. Kalau lihat review di tripadvisor, waktu transit segitu leluasa. Sayangnya pesawat telat.
Saat pintu pesawat dibuka, kami langsung merasakan hawa panas. Panas yang melelahkan jiwa dan raga. The hotness makes you question how 250 million people can live in Indonesia.
Oiya, kami bawa beberapa oleh-oleh seperti jam tangan dan dompet. Awalnya dipikir akan ada pemeriksaan bea cukai. Untuk keluarga batas maksimum tidak kena bea cukai waktu itu adalah total barang senilai $1000 (untuk perorangan $250). Sekarang sudah berubah, perorangan $500, tidak ada aturan khusus untuk keluarga (sumber). Ternyata juga tidak pemeriksaan, tapi tiap penumpang disuruh isi pernyataan di secarik kertas dari bea cukai. Di serahkan setelah ambil bagasi kepada petugas.
Saya juga sempat tanya teman saya yang pegawai Angkasa Pura, apakah harus ambil bagasi dulu untuk periksa bea cukai. Jawabannya adalah iya, karena pemeriksaan itu wajib. Begitu juga yang tercantum di web Garuda:


Alur transit Garuda dari internasional ke domestik

Ternyata langkah 3-5 tidak ada. Yeay.
Anyway, berhubung sudah tahu kami tidak akan bisa mengejar pesawat sambungan, kami jalan dengan biasa. Menyempatkan ganti baju juga. Habis itu tanya ke counterGaruda yang banyak sekali di terminal 3 ini. Dilempar beberapa kali sampai akhirnya ke kantor CSnya. Next flight penuh katanya. Dannn..kami keluarkan jurus ngemis pake anak. Langsung dibilang 'Oh, berhubung Bapak bawa anak, saya coba lihat lagi'. Dan kami diberi tiket untuk penerbangan selanjutnya, tapi duduknya terpisah. Tidak masalah, daripada lama-lama di bandara juga ngapain.
Kami berusaha untuk kontak orang tua tapi wifi sangat sulit di terminal 3 ini. Mungkin karena saking banyaknya orang yang pakai. Waktu itu ada stand Telkomsel, tapi tidak ada orangnya.
Masuklah kami ke ruang tunggu. Gate yang kami tuju nomer belasan. Sedangkan masuk ruang tunggunya dari ujung nomer kecil. Antar gate ternyata jaraknya juga jauh. Beruntung ada beberapa travelator. Dan ada juga mobil-mobil golf untuk nganter penumpang. Tapi berhubung kami pikir dekat, kami jalan saja. Dan tentunya Aini juga ingin jalan sendiri. Sampai di gate tujuan, ternyata gatenya pindah ke ujung nomer 24. Beneran ujung mentok terminal 3 ini. Lari-larilah kami ngejar. Aini digendong sambil nangis karena pengen jalan sendiri, dan mungkin karena kepanasan juga.
Sampai di pesawat dengan selamat. Hanya salah satu koper kita yang overload diambil petugas untuk dimasukkan ke bawah. Hahah. Perjalanan Jakarta-Jogja sekitar 1,5 jam. Sampai di Jogja, kepanasan lagi. Keringat bercucuran. Aini lemes tidak bergairah lari-lari. Sambil nunggu bagasi dan bingung cara kontak keluarga, kami bertemu dengan Fauzi, teman TPB kami. Beruntung sekali. Langsung pinjem HP untuk kontak keluarga.
Nah, as not unexpected, ada bagasi kami yang belum sampai. 1 koper dan 2 sepeda. Setelah dilacak oleh petugas bandara, 3 bagasi itu ternyata masih di Schiphol/ sedang dimasukkan pesawat. Bagasi bisa diketahui dari lokasi terakhir dia didata, waktu itu ya di Schiphol. Dinjanjikan oleh pihak bandara kalau bagasinya nanti akan diantar ke alamat. Dan tidak hanya kami saja, ada beberapa penumpang lainnya juga ketinggalan bagasinya.
Dan kami pun dijemput dan pulang. Langsung nyalain AC. :p
Share:
Read More

(Bukan) Sebuah “Selamat Ulang Tahun” September 7, 2017

Pada tanggal 1 September kemarin Aini ulang tahun yang pertama. Kebetulan tahun ini bertepatan dengan Idul Adha. Ini pertama kalinya bagi kami untuk ‘merayakan’ ulang tahun anak. Namun kami tidak benar-benar merayakannya. Kenapa? Ada 2 alasan. Pertama, banyak sekali orang mengucapkan ‘selamat’ kepada seseorang yang sedang berulang tahun. Seakan-akan menghabiskan 365 hari kalender masehi adalah sebuah capaian. Hanya dengan duduk diam dan nonton TV selama 1 tahun pun sudah bisa mendapatkan ‘selamat’. Tidak, kami tidak ingin menurunkan standar kesuksesan anak-anak kami menjadi sekedar ‘menunggu waktu’. Akan banyak ujian-ujian yang akan datang yang harus dilewati anak-anak dengan benar-benar sukses. Kedua, sebenarnya yang perlu diucapkan ‘selamat’ adalah ibunya. Kami setuju dengan idenya Mbak Sera, sebenarnya yang sukses selama setahun terakhir adalah ibunya dalam menjaga anak. Tahun ini, ibunya sukses memberikan ASI, sukses memulai MPASI, sukses mengajarkan jalan, sukses mengajarkan makan sendiri, dan terutama sukses melahirkan; dan semua itu sambil kuliah.

Nevertheless, perayaan dan ucapan selamat ulang tahun bukan hal yang negatif juga. Sebuah euphoria yang menarik bagi anak-anak dan bisa menjadi momen yang cocok untuk mengajarkan berbagi. Yang terpenting adalah cara kita menyikapi momen ini. 🙂



Aini pulang dari sholat Id
Share:
Read More
, ,

Hilangnya (dan Kembali) Cincin Nikah di Schiphol International Airport May 14, 2018

Jadi ceritanya waktu itu kami berangkat pulang ke Indonsia, for good. Kami sangat berterimakasih kepada teman-teman yang membantu beres-beres barang, bantu jual barang, bantu dititipin, dikasih sampah, dll.
Sampailah suatu hari kami di Schiphol International Airport di Amsterdam. Dengan bermodalkan kerompongan dunia, kami beranikan diri untuk pulang. Saat itu sedang ada malfunction pada semua conveyor belt yang ada di bandara. Jadi semua koper dan bagasi dibawa pakai trolley manual oleh petugas. Beberapa barang kami juga telat sampai, tapi diantar ke rumah habis itu.
Kembali ke cerita utama. Jadi setelah rempong taruh bagasi, kami lanjut masuk menuju ruang tunggu. Di security check yang kedua, semua barang yang nempel kan harus dilepas. Tanpa cek ulang setelah lewat body screening, kami lanjut ke ruang tunggu. Sampai ruang tunggu baru sadar kalau cincin nikah istri tidak ada di tangan dan juga di tas-tas. Ya sudah, hilang lah. Dengan sedikit bersedih hati kami kembali ke Indonesia.
Setelah googling, kami menemukan bahwa ada form lost & found untuk bandara Schiphol ini. Wow. Tapi kami tidak berharap banyak. Bandara sebesar itu, dengan traffic penumpang sebanyak 63,6 juta di tahun 2016 (wikipedia), mana mungkin nemu cincin yang ukurannya seuprit. Tapi yang penting ikhtiar dulu.
Kami buka webnya: https://schiphollostandfound.vebego.com/Pages/SchipholWebsite2/en/lost-and-found/
Isi semua point-pointnya dengan benar, sekilas halaman webnya:
Lanjut doa dan pasrah.
Tidak lama kami dapat email balasan kalau barang sudah bisa diambil di counter lost & found. Wew! Surprise banget. Bisa ternyata. Bingung lagi cara ambilnya. Singkat cerita, kami minta tolong teman untuk ambilin pas dia juga pulang ke Indonesia.
Yeay, cincin ketemu lagi dengan keadaan sehat walafiat.
Share:
Read More
,

Italiano with Baby (part 3) May 14, 2018

Part 1, Part 2Part 3
Hari ke-5
Dari Florence kami berangkat ke Pisa pagi-pagi.  Titip barang dulu di hotel karena belum bisa check in, untungnya jaraknya hanya 50 meter dari stasiun. Mulai lagi kami hunting makanan. Menemukan tempat makan ini, dekat stasiun juga. Ada label halalnya juga dan recomended juga di google maps.
Sarapan dulu dan bungkus juga beberapa roti untuk di jalan. Jangan lupa untuk beli coffee latte! Saya sendiri yang bukan penggemar kopi, jadi suka karena di sini enak. Baru kerasa kalau kopi itu bisa enak di sini. *lebayLanjut lagi jalan kaki menuju Menara Pisa. Agak-agak gerimis dan kami beli payung lipat seharga 5 Euro.Welcome to The Leaning Tower of Pisa! Yeay!Sebagai seorang civil engineer awalnya skeptis kalau menara yang terkenal ini miring banget. Tapi ternyata pas lihat sendiri, wow juga.
Tips ambil angle foto yang kelihatan paling miring: perhatikan kolom paling bawah, putari menara sampai terlihat kolom paling pendek/panjangnya ekstrim.
Masih se-area juga dengan menara ini, ada gedung lain yang entah apa isinya tapi orang ramai juga masuk sana. Berhubung kami orang norak dari Indo, maunya cuma lihat menara. Hahah.
Jalan lagi menuju stasiun kecil. Jaraknya sekitar 1.5km dari menara.Nah, jadi ceritanya ada daerah namanya Cinque Terre. Di situ terdapat 5 desa kecil yang menarik-menarik dengan keindahan masing-masing. Desa pertama (kalau dari arah selatan) adalah Riomaggiore. Desa ini terhubung dengan desa kedua, Manarola, dengan jalan ala-ala hiking tepi tebing pantai yang jaraknya hanya 1km. Nah, kami awalnya ingin pakai trek hiking itu. Belilah tiket hanya sampai Riomaggiore. Tapi setelah cek-cek internet, trek itu sedang ditutup sampai April 2021. Dan desa yang menarik adalah Manarola. Ya sudah lah, saya putuskan untuk curang. ‘Toh cuma 1 km ini aja jaraknya’ ‘Naik kereta cuma beda 5 menit’ ‘Cuma selisih 3 Euro ini’ ‘Tiket sudah kebeli juga’. Pemikiran-pemikiran inilah yang berujung maut. Sesaat setelah kereta tutup pintu saat mulai beranjak dari Riomaggiore, tiba-tiba pak kondektor langsung menghampiri kami. Padahal ybs di ujung gerbong, yang penuh dengan wisatawan juga. Entah bagaimana kami ditarget. Semua wisatawan lainnya dilewatinya. Dannnn..singkat cerita..denda. Huff. Jarak 1km kena denda 100 Euro. Mood langsung drop.Lesson learned: kondektor kereta sangat ketat. Mereka sepertinya juga tahu siapa yang harusnya turun dimana. Jangan ambil resiko. Pelajaran berharga (mahal). Hahah
Ini lah yang saya maksud dengan desa yang menarik itu. Sayang pas itu mendung dan gerimis. Kami hanya dapat foto ini (dengan bayar mahal).Setelah itu, berhubung cuaca kurang mendukung, kami langsung menuju ke hotel di Pisa.
Baby notes Pisa dan Cinque Terre: overall ada aja jalan untuk stroller. Beberapa spot jalanannya cobblestone. Kereta untuk ke Cinque Terre udah tua, jadi naik turunin stroller butuh tenaga lebih karena tinggi. Saya rasa weather forecast di Itali tidak sedetail dan seakurat di Belanda, tapi lumayan membantu. Jika kelihatannya akan hujan, jangan lupa bawa payung.
Hari ke-6
Pagi-pagi check out. Menuju Roma! Sampai Roma hujan deras waktu itu. Jadi kami menuju penginapan dengan berbasah-basahan. Sampai di penginapan istirahat dulu berhubung masih hujan di luar. Baju dan celana juga masih basah.
Sorenya kami beranikan diri lagi untuk berangkat menyusuri kota Roma. Lain halnya dengan kota-kota sebelumnya, Roma ini besar. Kami beli tiket terusan 24 jam. Sangat berguna untuk keliling kota.
  Tak lupa mengunjungi Colloseum.Oiya, di spot-spot wisata banyak sekali penjagaan militer, lengkap dengan senjata dan kendaraan pengamanannya. Pas itu kebetulan ada mobil nabrak tiang, untuk tidak ada yang terluka parah.Tidak lupa regangkan badan anak.Lanjut menuju daerah tempat tidur kami pakai trem. Lagi-lagi makan di tempat kebab. Yang penting halal. Di sini banyak pilihan makanannya juga sih selain kebab. Saat itu saya merasa janggal karena pegawainya tumben tidak sedang nelpon. Ternyata istrinya yang ada di dapur. LolBaby notes: jalanan Roma rata-rata cobblestone. Ada spot-spot daerah Colloseum yang diaksesnya  hanya dengan tangga, jadi kurang stroller friendly. Jangan lupa bawa bekal karena spot wisata ini besar dan jarak ke tempat makan bisa jauh.
Hari ke-7
Awalnya istri ragu apakah etis kalau kami mengunjungi daerah Vatican. Tapi akhirnya berangkat juga ke sana. Dan ternyata biasa aja. Lapangan besar dengan bangunan-bangunan arsitektur yang bagus. Jangan pikir ada garis ‘batas suci’ yang kalau kita lewatin langsung terbaptis otomatis. Banyak orang-orang imigran yang menawarkan tur keliling juga. Jangan segan untuk menolak kalau memang tidak mau.
Penjagaan polisi Itali.Salah satu sudut Vatican City.Tampak Vatican City dari jauh. Nggak begitu kelihatan memang. Hahah Lanjut jalan lagi dan kami menemukan lapangan ini. Ada air mancurnya dan enak buat lepas anak biar main sama burung-burung. Kebab is life!
Lanjut jalan lagi! Anak tepar. Berhubung udah mati gaya dalam kota, kami melanjutkan perjalanan ke ujung kota. Ini entah dimana. Tapi sampai sana ternyata gerimis dan takut kemalaman. Jadinya cuma jalan-jalan ngasal aja tapi tetap dapat spot-spot menarik.
 Daannn..pulang lah kami ke hotel lagi. Metro!Baby notes: overall stroller accesible walaupun goncangannya keras karena cobblestonenya besar-besar. Jadi jangan lupa untuk biarkan si kecil meregangkan badan.
Hari ke-8 (last day)
Pagi-pagi banget kami check out. Ke bandara Rome (Ciampino) menggunakan shuttle bus dekat stasiun. Perhatikan tujuan bandara karena ada 2 bandara di Roma ini. Bus ada tiap 15-20 menit sekali jadi jangan takut kalau ketinggalan masih ada yang lainnya.
Pesawat Roma-Eindhoven. Sampai Eindhoven jam 12 siang dan langsung bergerak pulang. Lelah dengan sejuta memori. 🙂
Special thanks to my super wife for making this once in a lifetime trip possible.
Share:
Read More
,

Italiano with Baby (part 2) May 14, 2018

Part 1, Part 2Part 3
Hari ke-4 kami mulai dengan mengunjungi tempat ini. Gereja super tua.Di kota ini banyak bangunan-bangunan bersejarah. Tapi kami tidak masuk sana sini karena kurang stroller friendly. Dan waktu yang terbatas.Kalaupun masuk paling cuma sampai halaman yang gratisan dan bisa diakses stroller.Italian policemen.
Sungai di Florence yang airnya super jernih. Jembatan yang di sebelah kanan merupakan salah satu spot wisatawan. Di jembatan itu banyak toko-toko yang jual pernak-pernik perhiasan. Tidak lupa belanja buah di toko lokal biar hemat.Buat si kecil, highlight dari semua perjalanan ini tentunya adalah lari-lari bersama burung-burung. Sesekali istirahat di taman-taman kecil untuk meregangkan badan si kecil. Tapi biasanya habis itu agak sulit diajak lanjut pergi lagi naik stroller.Sampailah kami di kastil Florence ini. Di dalam kastil ini terdapat 2 spot wisata: museum Galleria Palatina (dalam kastil) dan taman kastil. Harga tiket masuknya lumayan lah, 13Euro/person untuk 1 spot wisata. Kami hanya ambil yang museum. Sebenarnya kalau suka seni dan punya waktu banyak, galeri ini sangat bagus. Bisa setengah hari sendiri kalau jalan santai sambil menikmati. Tapi berhubung kami bawa bocah yang pengen pegang ini itu, sulit rasanya untuk bisa lama-lama. Dan kalau Aini sedang ngoceh, suara cemprengnya menggema selantai.
 Lesson learned: don’t go to a museum (of art) with a baby, especially if it is a paid one. Anak bakal bosan, tidak bisa lari-lari dan pegang-pegang juga. Bukan tempat untuk anak lah pokoknya.
Lanjut lagi mencari makanan halal, tempat kebab lagi. Yang jual orang Pakistan. Somehow kalau yang jual orang Pakistan, Bangladesh, India, dan sebagainya, mereka selalu sambil nelpon, mungkin sanak saudaranya di rumah.
Dan lanjut lagi kami pulang ke hotel.
Baby notes di Florence: jalanan dan trotoar banyak yang cubble stone. Kalau punya stroller dengan roda besar akan lebih enak. Kalaupun tidak ya masih doable kok. Sebelum berangkat, cari lokasi-lokasi seperti taman untuk istirahat. Bawa bekal roti kalau berangkat pagi karena tempat makan kebab di Florence jarang ada yang buka pagi.
Lanjut hari berikutnya. 🙂
Share:
Read More